Latte Factor, Kebiasaan Yang Membuat Sesorang Sulit Kaya

Generasi millennial saat ini telah digerogoti oleh sebuah gaya hidup yang berbahaya bernama Latte Factor. Latte Factor adalah sebuah istilah untuk menggambarkan perilaku seseorang yang melakukan pengeluaran demi sesuatu yang tidak perlu, terlihat kecil, namun tanpa sadar dilakukan secara terus menerus hingga menjadi sebuah kebiasaan, dan akhirnya membuat pengeluaran setiap bulannya membengkak. Teori ini ditemukan oleh David Bach, seorang penulis buku finansial ternama yang prihatin karena tanpa sadar orang – orang yang terkena gaya hidup seperti itu sebetulnya menghambat laju ekonomi dirinya sendiri dan mengancam masa depannya karena akan membuatnya sulit kaya. Berikut ini adalah beberapa kebiasaan Latte Factor yang dapat membuat seseorang sulit kaya.

1. Ngopi di Tempat Mahal

Hanya demi dibilang gaul dan agar bisa update foto di media sosial, banyak orang terutama generasi millennial, rela menggunakan uangnya untuk nongkrong di coffee shop dan membeli kopi yang satu cangkirnya berkisar antara 30 – 50 ribu rupiah. Jika dalam satu minggu bisa lima kali membeli kopi maka dalam sebulan jika dijumlahkan maka kita telah menghabiskan sekitar 480.000 – 800.000 ribu rupiah hanya untuk segelas kopi. Ini tentunya akan membuat kita menjadi sulit kaya karena uang yang seharusnya dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna malah dihabiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

2. Rokok

Rokok telah meracuni hampir semua kalangan di Indonesia. Ini karena belum adanya peraturan yang ketat tentang konsumsi rokok dan karena masih kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya rokok. Rata – rata harga rokok saat ini berkisar antara 15.000 – 20.000 ribu rupiah per bungkusnya, maka jika setiap hari kita membeli satu bungkus rokok, dalam sebulan kita telah mengabiskan sekitar 560.000 ribu rupiah. Pengeluaran sebesar itu sebetulnya dapat digunakan untuk membayar biaya member club olahraga, atau untuk di tabung. Selain itu bahaya kesehatan tentunya juga mengancam masa depan setiap perokok.

3. Makan di Restaurant

Satu lagi kebiasaan yang membuat kita sulit kaya adalah karena terlalu sering makan di restaurant yang pasti harga setiap porsi makanannya tidak murah. Kebiasaan ini harus dikurangi contohnya dengan membiasakan diri membawa bekal ke kantor atau ke kampus, dan makan dirumah agar lebih hemat dan kebersihan dari makanan itu sendiri lebih terjamin.

Itulah beberapa kebiasaan yang termasuk kedalam factor Latte yang membuat seseorang menjadi sulit kaya. Jangan takut untuk mengalahkan gengsi demi terciptanya masa depan yang lebih baik.

Penghambat Laju Perekonomian Indonesia

Selama beberapa tahun belakangan ini, laju perekonomian Indonesia tidak mengalami perkembangan yang berarti, malahan semakin menurun karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ini tentunya menjadi masalah yang cukup berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama mereka yang masih berada di daerah – daerah pelosok. Beberapa faktor berikut ini adalah penyebab terhambatnya laju perekonomian di Indonesia.

1. Korupsi

Korupsi telah tumbuh dan berkembang dengan pesat di dalam negeri selama bertahun – tahun. Akibatnya banyak pembangunan terlantar, kemiskinan semakin parah, dan kesenjangan sosial semakin menjadi – jadi. Selain itu hutang negara juga semakin bertambah setiap tahunnya demi membiayai kebutuhan Negara. Korupsi telah menjadi budaya yang sulit untuk dihilangkan apalagi karena tidak adanya kesadaran dan komitmen nyata dari pemerintah untuk mendukung pemberantasan korupsi. Sampai hari ini, korupsi masih menjadi masalah terbesar di Indonesia dan merupakan penyebab utama terhambatnya laju perekonomian.

2. Birokrasi

Banyak investor dan pelaku usaha mengeluhkan rumitnya proses birokrasi di Indonesia yang membuat mereka rugi dan menjadi malas untuk melewati cara – cara resmi sehingga banyak kasus penyuapan dan penggelapan terjadi. Rumitnya proses ini karena belum ada reformasi birokrasi kearah yang baik dan juga karena Indonesia masih bertahan dengan cara – cara lama yang sudah semakin kurang efektif. Jelas hal ini membuat laju perekonomian menjadi tidak bergerak ke arah yang lebih baik.

3. Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur dalam negeri masih terpusat di kota – kota besar terutama di pulau Jawa. Hal ini membuat daerah – daerah lain masih sangat tertinggal bahkan hingga saat ini masih ada beberapa daerah yang belum pernah merasakan listrik dan jalan beraspal. Kondisi ini tentu menghambat laju perekonomian karena potensi yang terdapat di daerah – daerah tersebut akan lebih susah untuk dimanfaatkan karena aksesnya sulit dan sarana serta prasarana masih kurang memadai.

Itulah tiga faktor utama penghambat perekonomian kita. Selain itu gaya hidup masyarakat yang kurang baik saat ini juga turut menghambat roda perekonomian kita contohnya adalah terlalu sering melakukan belanja online dan menggunakan uangnya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. Diharapkan 10 – 20 tahun kedepan ada komitmen nyata dari pemerintah dan kesadaran masyarakat agar dapat berubah kearah yang lebih baik.

 

Dampak Globalisasi Terhadap Perdagangan Dalam Negeri

Perkembangan teknologi dan informasi selama satu dekade ini membuat globalisasi semakin terasa terutama di sektor ekonomi. Berbagi kendala serta tantangan baru juga turut muncul seiring terciptanya berbagai inovasi dan kreativitas yang ada. Sebelum lebih jauh membahas dampak globalisasi terhadap perekonomian, ada baiknya kita mengerti dulu apa itu globalisasi. Globalisasi adalah suatu proses di mana individu, kelompok, dan negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batasan – batasan yang ada. Lebih gampangnya, globalisasi membuat mereka yang berbeda Negara, waktu, dan tempat, dapat terhubung satu sama lain secara lebih mudah. Berikut ini adalah dampak globalisasi terhadap perdagangan dalam negeri.

1. Terbukanya Pasar Untuk Produk Lokal di Pasar Global

Produk lokal yang dihasilkan setiap harinya membuat persaingan di Indonesia semakin ketat karena masih kurangnya inovasi dan karena kreativitas yang tidak jauh berbeda antar satu produk dengan produk lainnya. Hanya pelaku usaha yang menciptakan inovasi yang menarik dan memiliki kualitas untuk bersainglah yang dapat mendapat tempat di pasar yang ada. Jika standard lokal telah terpenuhi, maka tidak mustahil jika selanjutnya pasar global adalah tempat berikutnya untuk menjual produk kita. Dengan adanya globalisasi, berbagai kemudahan untuk memasarkan produk dapat diperoleh namun dengan catatan produk tersebut memang layak dalam bersaing.

2. Kemudahan Untuk Mendapatkan Produk Yang Belum Ada di Pasar Lokal

Ada beberapa produk yang hanya bisa di dapatkan di Negara – Negara tertentu karena keterbatasan pemasaran dari produk terkait seperti birokrasi, dan sebagainya. Dengan adanya globalisasi maka perdagangan dalam negeri akan turut melibatkan konsumen dari luar yang memang tertarik sehingga produk kita dapat semakin di kenal.

3. Pasar Lokal Kebanjiran Produk Impor

Dampak yang satu ini bersifat negatif. Memang adalah impian dari setiap pelaku usaha agar produk atau jasanya dapat dikenal tidak hanya secara local namun juga secara global. Namun apa jadinya ketika pemasaran di Negara sendiri ternyata sulit karena lebih banyak produk impor yang masuk dan lebih dikenal? Ini tentunya menjadi kendala dan pr bagi pemerintah untuk membatasi jumlah produk luar yang masuk agar tidak mengganggu perdagangan dalam negeri.

Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini kondisi perekonomian dalam negeri belum menunjukan perkembangan yang signifikan. Justru yang terjadi adalah kenaikan harga komoditas di pasaran seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya yang berdampak pada terciptanya kurva negatif dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Beberapa strategi telah disusun oleh pemerintah melalui beberapa sektor yang ada demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi di setiap tahunnya agar semakin baik. Berikut ini adalah beberapa sektor yang dipercaya dapat membantu pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

1. Pariwisata

Indonesia sebagai Negara kepulauan yang berada di jalur cincin api dunia, memiliki berbagai destinasi wisata yang luar biasa indah. Perpaduan bentang alam seperti gunung api dan pantai yang indah dapat ditemukan di berbagai sudut di Indonesia. Setiap tahunnya jutaan wisatawan dari berbagai Negara datang berkunjung untuk menikmati berbagai sajian wisata yang ada. Tempat – tempat terkenal seperti Bali, Lombok, dan Raja Ampat, sepertinya betul – betul menarik hati dan minat wisatawan untuk kembali berkunjung setiap tahunnya. Ini tentu menjadi sumber devisa bagi Negara yang jika dimaksimalkan dapat menjadi titik pertumbuhan ekonomi Indonesia.

2. Industri

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia sebagai Negara berkembang memiliki banyak industri seperti otomotif, tekstil, makanan, dan lainnya. Banyak investor baik dari dalam maupun luar negeri berbondong – bonding menanamkan modalnya karena melihat potensi pertumbuhan yang begitu besar nantinya. Sayangnya saat ini proses birokrasi yang berbelit – belit menjadi penghambat dalam pertumbuhan sektor industry sehingga banyak investor yang menjadi tidak tertarik dan lari ke sektor lain. Harus ada komitmen nyata dari pemerintah untuk memperbaiki system yang ada sehingga para investor dan pelaku usaha dapat memaksimalkan kegiatan mereka sehingga nantinya dapat memberikan kontribusi demi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

3. UKM

Meskipun masih terbilang kecil, namun sudah ada ribuan UKM yang ada tersebar di seluruh penjuru dalam negeri. Berbagai jenis UKM dan produk yang dihasilkan berkat kreativitas dan kerja keras dari pelaku usahanya, membuat berbagai produk UKM telah berhasil menembus pasar internasional.

Itulah beberapa sektor yang dapat dijadikan pendongkrak ekonomi Indonesia. Dibutuhkan komitmen nyata dari pemerintah dan kita sebagai masyarakat agar kelak kondisi ekomoni kita dapat menjadi lebih baik.